Kurikulum

Sebagai sekolah yang terus berkembang, Elyon Christian School terus berusaha untuk memberikan program terbaik untuk siswa-siswi kami. Melalui kombinasi kurikulum nasional dan internasional kami mengembangkan kurikulum terintegrasi yang sesuai dengan kemajuan dunia. Di Elyon Christian School, siswa-siswi mendapatkan kesempatan yang tidak terbatas untuk mengembangkan potensi diri di setiap subjek pembelajaran yang dibangun dengan dasar-dasar holistik.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN – PRESCHOOL

Elyon Christian Preschool menyampaikan materi di kelas disesuaikan usia dan kebutuhan siswa, yaitu dengan menyediakan sentra-sentra pembelajaran. Anak-anak belajar dengan menjelajah, mengamati, dan mengaplikasikan kemampuan mereka sesuai dengan topik yang dibahas. Metode ini digunakan agar setiap anak dapat mengembangkan dan mengerti intelegensi mereka yang beragam karena kami percaya bahwa Tuhan menciptakan setiap anak berbeda dan spesial.

Terdapat 8 sentra yang disediakan di tiap kelas:

  • Bahasa
  • Balok
  • Drama
  • Kognitif
  • Sains
  • Musik
  • Seni
  • Air dan pasir    

Kami menggunakan pendekatan Montessori dalam menyampaikan proses pembelajaran menggunakan materi practical, sensorial, matematika dan bahasa. Kami mengajarkan mereka bagaimana menjadi mandiri dan perhatian di sekolah sebagai persiapan untuk naik ke jenjang lanjutan. Kami melatih koordinasi mata dan tangan dan juga memperkuat fisik motorik mereka agar siap untuk membaca dan menulis dengan menggunakan materi praktikal dan sensorial.

Di Elyon Christian Preschool, anak-anak juga belajar prinsip dari benda konkrit ke abstrak. Kami mengintegrasikan materi bahasa untuk mengajar anak-anak membaca. Kami menggunakan metode phonics untuk mengajarkan anak-anak membaca dengan mengenali bunyi dari tiap huruf, lalu bagaimana mereka menggabungkan bunyi tersebut dalam kata dan kata dalam kalimat.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN – PRIMARY | SECONDARY | HIGH SCHOOL

  • Pembelajaran kolaboratif 

Memiliki efektifitas dan efisiensi mencapai target pembelajaran dan mengembangkan kompetensi siswa dan guru. Pembelajaran kolaboratif juga direkomendasikan sebagai strategi yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Berpikir kritis adalah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi..

  • Pembelajaran berbasis masalah
    Bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berpikir kritis dan mengasah keterampilan memecahkan masalah, dan memperoleh pengetahuan melalui tahap:
  1. Orientasi peserta didik terhadap masalah
  2. Mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang telah diorientasi.
  3. Melakukan analisis individu dan kelompok.
  4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
  5. Menganalisis dan mengevaluasi pemecahan masalah yang dipresentasikan setiap kelompok.
  • Pembelajaran berbasis proyek
    menggunakan tugas proyek sebagai metode pembelajaran. Para siswa bekerja secara nyata dan dapat menghasilkan produk secara nyata atau realistis.
  • Pembelajaran berbasis pengalaman
    Mendorong siswa untuk belajar sendiri melalui keterlibatan aktif berdasarkan konsep dan prinsip akademis. Guru mendorong siswa agar mempunyai pengalaman dan melakukan eksperimen yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip atau konsep-konsep mereka sendiri.
  • Pendekatan kelas terbalik
    Mendorong siswa untuk memelajari materi pelajaran di rumah (melalui menonton video pembelajaran, membuat rangkuman, mencatat poin-poin penting, membuat pertanyaan, diskusi dengan teman secara online, atau membaca sumber-sumber yang dibutuhkan), kemudian mengerjakan tugas-tugas untuk penguatan di kelas. Di dalam kelas ada juga diskusi, praktik laboratorium, penjelasan terhadap konsep-konsep yang belum dipahami siswa, tetapi ini sifatnya untuk penguatan atau pendalaman.